Ku tunggu dia berjam-jam lamanya. Sudah dari tadi dia pergi mencari nafkah buat kami, namun tak jua pulang. Resah aku menunggu, perasaan cemas mencampuri urusanku di pikiran kecilku. Namun kesabaran pun ku curahkan demi dia yang telah mendampingiku.
Mata ku melirik melintasi jalanan di depan rumah kami. Namun sepeda motor yang ku dengar bukanlah sepeda motor yang dipakai suamiku. Yang melintas itu hanyalah orang yang lewat untuk kepentingannya yang membuat mereka terkadang sibuk dan letih sama sepertiku.
Terkadang hatiku merintih menunggunya, kesedihan yang menggangguku membuatku terkadang tunduk berdoa berusaha mendekatkan pd Robb ku yang ingin ku jumpai lagi setelah ashar nanti.
Ku hubungi dia antara takut dan pengen tau. Namun hampir lima belas kali kuhubungi dia Hp nya belum juga diangkat. Iris hatiku yang ingin tau mengikhlaskannya. Hanya doa yang kulantunkan dalam bisikku. Berharap Allah melindunginya.
Aku memakan peyek yang memang sudah makanan kesukaanku selain bakwan atau ote-ote dalam istilah Jawa Timurnya. hmm. Namun badanku rasanya masih lemas setelah aku tidur dan tidur siang yang menakutiku. Sebab biasanya aku lemas setelah aku bangun dari tidur siangku. Walau sekarang aku berharap moga bisa seperti dulu. Tidur lama pun tak pernah mengganggu kesehatanku. Atau rasa sakit itu karena ulahku masa remaja yang suka nya jadi "tuti" tukang tidur (julukan dr temanku sarah)
Tiba-tiba datang kembali niatku hendak menelponnya. sang pangeran dalam rumah tanggaku. Alhamdulillah,, ternyata.. dia bisa mengucapkan salam buatku. yang kuingat yah.. seperti itu.
Akhirnya suamiku pulang dengan senyuman yang selalu ditebarkan buat menyenangkan hatiku. Aku mencium tangannya, dan mengatakan rindu yang dalam. he he he … lucu memang.. baru berapa jam belum bertemu rasanya sudah lama sekali.
Yang ku syukuri adalah rasa cinta dari Allah padaku. subhanallah…. harapku, moga para istri-istri yang lain juga bisa sepertiku.
Dan semoga cinta dan kasih sayang kita buat keluargapun hanya karena Allah yang Maha Esa. yang Maha Mencinta tiada putus cintanya. aamiin
BY: Nur’Ainun Siregar